MENGENANG RAMADAN DI RANTAU
Assalamualaikum, gimana puasa
hari keduanya? Semoga lancar-lancar saja ya…
Aku sekarang memang sudah tinggal
di kampung halaman, bukan lagi seorang anak rantau yang belajar di kota orang
atau anak kos yang paling senang dengan takjil gratis. Tapi, kenangan tentang Ramadan-ku
saat masih menjadi seorang mahasiswi masih teringat jelas.
Tahun 2014, menjadi Ramadan pertamaku
di Pekanbaru bersama ke-7 sahabatku, terdiri dari 2 orang senior dan 5 orang mahasiswa
baru beda jurusan yang sudah seperti keluarga sendiri.
Kami tinggal di sebuah rumah yang
letaknya strategis, karena jangkauannya dekat untuk kemana-mana. Pasar bisa di
bilang di depan rumah, dekat dengan halte, dekat SPBU, jalan sebentar ketemu
jalan raya.
Rumah yang kami sewa itu kami
namakan Kos Bidadari karena terinspirasi dari ceritanya Jaka Tarub dan 7
Bidadari. Pas dengan kami ciwi-ciwi bertujuh yang cantiknya kayak bidadari yang
belum mandi di sungai pelangi.
Jauh dari orang tua saat Ramadan
memang berat, apalagi harus belajar beradaptasi dengan lingkungan baru. Saat sahur
pun masih dibangunkan Mamak lewat telepon, saat berbuka selalu nanya di rumah
buka pake apa? Terus ngiler sendiri sambil ngebayangin.
Di kos, kalau sedang tidak sibuk
dengan perkuliahan, kami terbiasa menyiapkan makanan dengan masak bersama untuk
makan sehari-hari, begitu pula dengan sahur dan buka puasa. Ketua chef-nya adalah kakak-kakak senior, jadi
setelah patungan, kami bagi tugas. Ada yang ke pasar untuk beli bahan-bahan
masakan dan ada yang ke swalayan untuk belanja keperluan Ramadan lainnya. Sampai di kos, gotong royong deh.
Kakak-kakak senior biasanya akan konsentrasi dulu dengan makanan utama, kami yang masih bocah ini bantu-bantu untuk persiapan bahan-bahannya. Entah itu nyuci ayam, potong-potong sayur, goreng tempe, blender cabe-cabean dan sebagainya.
Jika lauk utama yang dibagi untuk
buka dan sahur sudah siap, menjelang magrib, giliran kami para bocah yang harus
siapkan minuman untuk berbuka juga beberapa takjil yang sudah dibeli di pasar.
Menu favorit yang paling sering
kami masak adalah sup ayam dengan campuran berbagai sayur, ada wortel, brokoli,
kembang kol, dan kentang. Lalu ada sambal goreng tempe dan teri.
Nah, kalau sejenis teri dan ikan
asin, kami hampir tidak pernah beli di Pekanbaru karena sudah dibekali ikan asin dari
kampung yang biasanya lebih murah dari pada yang dijual di Pekanbaru.
Aku dikasih bekal ikan
teri setengah kilo yang sudah dikemas dalam plastik-plastik kecil biar lebih
gampang dibagi ketika ingin dimasak dan juga lebih rapi. Tapi kalau tidak sempat
dikemas, biasanya sih langsung masuk kantong kresek aja lalu dimasukkan dalam
kotak.
Semuanya 'kan pada bawa ikan asin
tuh, saking banyaknya sampai disatukan dalam kresek besar dan jadi jendolan di
dinding yang paling menyita perhatian ketika baru masuk dapur.
Bahkan kucing-kucing yang tinggal
di kos suka duduk diam di bawah kresek ikan asin itu sambil melihat ke atas. Menunggu
sampai ada yang buka lalu isinya kasih ke mereka. Atau menunggu sampai
kantongnya robek dan jadi hujan ikan asin. Ingat kucing di kos jadi kangen
Devano, Stella, Jello dan yang lainnya.
Oke, kembali ke menu sahur dan
buka puasa. Selain dua menu di atas, untuk camilan biasanya kami juga suka
bikin bakwan kuah. Aku terbiasa goreng bakwan dengan bentuk yang tebal
biar lembut di dalamnya, temanku sukanya yang tipis dan garing. Jadi kalau
sudah digoreng semua, di nampan ada dua bentuk yang tipis dan tebal, meski yang
tebal lebih sedikit sih karena yang lain lebih suka bakwan tipis dan garing.
Untuk kuah, ada spesialis kuah
bakwan pedas manis di kos, jadi selalu dia yang masak kuahnya, tanpa ada campur tangan
yang lain.
Meski suka masak, tapi pintu dan
tangan kami sangat terbuka lebar untuk menu buka dan sahur gratis. Ibu yang
punya warung depan rumah suka bagi-bagi masakan ke kami, begitu pula
sebaliknya. Biar piring kembalinya tidak kosong, diisi juga dengan makanan.
Saat rejeki datang 'kan tidak boleh
ditolak ya! Nah si rejeki ini datangnya suka keroyokan. Alhamdulillah banyak
makanan, banyak minuman. Tapi perginya juga barengan, jadi pas banyak, banyaaak
banget, saat tidak ada, memang tidak ada sama sekali.
Biasanya suka kejadian di tanggal
tua, saat uang kiriman ortu tinggal recehan, kadang beras pun tidak terbeli.
Pernah suatu ketika kami telat bangun sahur, beras ada tapi lupa dimasak, air galon habis, air keran ada tapi gas tidak ada, mie ada tapi bagaimana mau direbus?
Akhirnya dari pada melongo tidak sahur sama sekali, sedangkan waktu masih ada. Ada yang punya ide buat turunkan galon
yang sudah kosong, dan air sisa yang ada di dalam dispenser dipanaskan untuk bisa
melunakkan mie dan menyeduh Energen.
Kenangan Ramadan di rantau memang
ada suka-dukanya dan jika diingat kembali suka lucu sendiri. Masih banyak sih,
kenanganku yang lain mungkin akan aku bagikan lagi di sini lain kali. Untuk kali ini
cukup sampai di sini dulu.
Semoga hari-hari Ramadan kita
selalu Wah. Salam.
#Day2
#BianglalaHijrah
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita


Wahh aku kuliah tp pp sih mba. Jadi nggak mengalami itu hehe 😅
ReplyDeleteenak ya kalau bisa pp, kampungku jauh soalnya..
Delete