CUTE TROUBLE, HIDUP JADI BERWARNA KARENA MEREKA



Cute trouble atau masalah yang imut, begitu aku menyebut mereka. Memelihara kucing memang tidak mudah dan kadang kala bermasalah, terlebih jika dalam rumah ada yang tidak suka kucing. Dulu Bapak selalu protes tiap kali aku bawa anak kucing ke rumah untuk dipelihara. Juga saat kucingku melahirkan selalu dipisahkan dengan induknya lalu dibawa ke pasar ikan, istilah halusnya di sini ‘disekolahkan’.

Tapi sekarang, Bapak mulai melunak, saat aku bilang aku tidak akan membiarkan anak-anak kucingku terpisah dari induknya dan aku janji mereka tidak akan buat masalah besar meski jumlah mereka tidak sedikit.

4 ekor anak Mochi tumbuh sehat dan sekarang berumur 5 bulan. Mereka adalah Marco, Megan, Mori dan Michan. Semua kucing di rumah memiliki nama berawalan huruf M. Sebenarnya tidak ada alasan khusus, hanya saja aku memutuskan menamai mereka seperti itu karena nama kucing terdahulu dua-duanya berhuruf M, jadi biar sama gitu.



Marco lahir lebih dulu dan saat belum punya nama, aku dan Mamak memanggilnya Jenong karena kepalanya lebih besar dari pada yang lain. Marco adalah satunya-satunya kucing tampan dari 3 ekor kucing cantik lainnya. Menjadi seekor jantan di tengah adik-adiknya yang betina, seharusnya bisa membuat Marco lebih tangguh karena harus melindungi adik-adiknya. Tapi sepertinya kita harus skip teori ini karena Marco adalah si jantan yang penakut.

Saat keponakanku atau orang lain berkunjung ke rumah, Marco akan berlari pontang panting mencari tempat perlindungan saking takutnya, padahal orang yang berkunjung ke rumah tidak ada maksud sama sekali menakuti Marco, dia aja yang kelewat parno.


Megan jadi kucing yang paling unik dari ke-3 saudaranya. Bulunya yang kecokelatan, dengan bintik berwarna cokelat muda di kening dan kaki-kaki yang besar menjadikan Megan bak anak puma. Namun saat melihat ekornya yang bulat dari belakang dia lebih mirip kelinci. Aku sering menyebutnya PuBit (Puma Rabbit). Sebelum diberi nama Megan, aku mengira dia kucing jantan dan ingin kuberi nama Raja karena bintik di keningnya seperti permata sebuah mahkota. Tapi, ternyata dia betina dan nama Ratu tidak cocok untuknya karena dia sama sekali bukan kucing yang anggun seperti ratu, Megan kucing yang nakal dan manja.



Mori si hitam yang berisik tapi punya hati seputih salju. Mori juga unik karena memiliki bulu berwarna dominan hitam dengan bintik-bintik kuning serta putih yang bagiku mirip Gold Black Panther, sepupu T’challa yang jadi musuhnya di film Black Panther pertama. Keunikan lain Mori adalah bulu berwarna putih di dadanya yang berbentuk hati, makanya aku menjulukinya Mori The White Heart. Sebelum diberi nama Mori, dulu aku menyebutnya Honey Bear karena cakarnya yang mirip beruang madu. Karena kepanjangan dan tidak berawalan huruf M, jadi aku ganti Mori.


Michan terlahir dengan tubuh kecil, anak Mochi yang ke4 ini memiliki wajah yang imut dengan mata besar dan hidung kecil yang susah sekali dibersihkan. Nama Michan aku ambil dari nama pacarnya Doraemon. Sebelum diberi nama Michan, dia kami panggil Biccu' atau Kecil dalam bahasa Bugis.

Meski mereka lahir hanya berbeda beberapa menit, entah kenapa Michan memiliki tubuh yang lebih kecil dibandingkan saudara-saudaranya. Dan ia sering kali ditanya orang-orang yang berkunjung ke rumah, “kok yang ini kecil?” begitu kira-kira. Biasanya aku atau Mamak akan menjawab “karena dia lahir terakhir mungkin.” Tentu saja bukan jawaban pasti.

Saat berumur dua bulan, Michan terkena asma dan kami seperti kehilangan harapan karena di tempatku tidak ada dokter hewan. Aku berusaha membuat Mochiinduknyauntuk terus bersama Michan melewati masa kritis, tapi Mochi seolah tak peduli.

Mamak bilang, “Mungkin Mochi tahu tak ada harapan lagi untuk Michan, jadi dia biarkan saja.”

Aku juga berpikir yang sama, aku selimuti Michan dan pergi sebentar untuk mengerjakan pekerjaanku. Mamak melihat Michan dan berdoa di dekatnya lalu kami meninggalkan Michan di dalam rumah bersama saudara-saudaranya. Beberapa jam kemudian pekerjaanku selesai, aku ingin melihat Michan dan sangat terkejut mendapati dia sehat kembali dan ikut makan bersama saudara-saudaranya. Alhamdulillah, kami masih diberi waktu bersama Michan dan melihat ia tumbuh.

Umur mereka sudah 4 bulan saat itu dan Michan kambuh lagi. Ia kesulitan bernapas dan perutnya kembang kempis tidak wajar, ia tidak bisa berbaring hanya mendongak menatap ke atas sambil berusaha mengambil dan membuang napas sebanyak mungkin.

Kami kembali khawatir dan jika memang itu adalah saat terakhir Michan, kami ikhlas biar dia tidak merasakan sakit lagi. Tapi lagi-lagi Allah masih memberi waktu kami untuk menyayangi Michan dan merawatnya hingga ia tumbuh lebih besar. Michan kembali sehat, Alhamdulillah. Kayaknya kami harus siap-siap di bulan ke-6 dan harus terus menjaga kondisi Michan, karena menurut Mamak mungkin Michan memiliki asma bawaan lahir yang kambuh dua bulan sekali.








Ingin tahu kelucuan mereka lebih banyak? Follow ig @kucing_wahdabes

#Day5
#BianglalaHijrah
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita


Comments

  1. sama dong kayak saya yg punya kucing 3 karena anaknya mati satu. Dikubur di halaman depan rumah. tapi sekarang induknya dah bunting lagi. paling sebentar lagi mau melahirkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, kucing emang cepat kali reproduksi, makanya kucing-kucingku dibatasin main di luar, kalau gak nanti pada bunting.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

DITELEPON 188? NOMOR APAAN TUH? YUK CARI TAHU!

CARA MEMBUAT MASKER BEDAK MARCKS UNTUK MENGOBATI JERAWAT

IKLAN BERHADIAH DARI INDO-OFFERS, PENIPUAN ATAU BETULAN?